Rabu, 19 Oktober 2016

            Ulama Nusantara: Generasi Penerus Perkembangan Islam di Nusantara(11)


H.O.S COKROAMINOTO
Nama lengkapnya Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Desa Bukur Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1882 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun adalah seorang pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) di Indonesia. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Kakeknya, RM Adipati Tjokronegoro adalah seorang bupati di Ponorogo, Jawa Timur, sedangkan ayahnya, Raden Mas Tjokroamiseno adalah wedana distrik Kleco, Madiun. Ia secara formal tak pernah nyantri, sekolah ditempuhnya dengan sistem pendidikan barat. Karena itu, ia menguasai bahasa Inggris dan Belanda.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Madiun, disekolah Belanda. Kemudian pendidikan lanjutnya ia tempuh di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren “Sekolah Pendidikan untuk Pegawai Pribumi”) di Magelang (1902). Di OSVIA, lama pendidikan adalah 5 tahun dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda. Sekolah ini tidak saja terbuka bagi anak-anak golongan priyai, tetapi terbuka juga bagi anak-anak golongan biasa yang ingin memasuki dinas pangreh praja. Setelah lulus dari OSVIA, pada tahun 1902 sampai 1905 Tjokroaminoto menjadi juru tulis patih di Ngawi (Jawa Timur), kemudian menjadi patih (pejabat dalam lingkungan pegawai negara pribumi), pembantu utama pada seorang bupati (regent). Pada bulan September 1905 ia minta berhenti dari jabatan. Alasannya, karena ia merasa tidak puas dalam kehidupan kepegawaian, tidak banyak menggembirakan hati dan terus-menerus berjongkok dan menyembah. Tak lama setelah ia menikah dengan Suharsikin, putri dari patih Ponorogo.
Merasa sulit berkembang di kota Semarang, beliau kemudian memutuskan pindah ke Surabaya. Di kota Surabaya ini beliau bekerja pada sebuah firma yang bernama Kooy & Co, antara tahun 1907-1910. Disamping bekerja, beliau juga tidak lupa meluangkan waktu untuk menambah ilmu pengetahuannya. Beliau melanjutkan pendidikan di sekolah B.A.S (Burgerlijke Avond School). B.A.S adalah sebuah pendidikan teknik yang diadakan pada malam hari, beliau mengambil jurusan mesin. Setelah menamatkan sekolahnya di B.A.S, agaknya Tjokroaminoto sudah tidak tertarik lagi untuk meneruskan pekerjaannya di perusahaan Firma Kooy & Co. Kemudian beliau berhenti dan bekerja sebagai Learning Machinis (magang ahli mesin) selama satu tahun lamanya, yaitu dari tahun 1911 sampai 1912. Kemudian beliau pindah bekerja lagi ke sebuah pabrik gula, di daerah Rogojampi, di dekat kota Surabaya sebagai seorang Chemiker ahli kimia analisis.
Selain sebagai pegawai swasta, dirumahnya juga Cokroaminoto menerima kos-kosan yang dikelola oleh istrinya yaitu Soeharsikin dengan membuka rumahnya untuk indekost para pelajar di Surabaya. Pelajar yang indekost di rumah Tjokroaminoto sekitar 20 orang. Setiap orang membayar Rp 11. Istri Tjokroaminoto, Soeharsikin, yang mengurus keuangan mengenai rumah indekos tersebut. Kebanyakan dari mereka bersekolah di M.U.L.O (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), atau H.B.S (Hollands Binnenlands School).
De Ongekroonde van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota" bernama Tjokroaminoto adalah salah satu pelopor pergerakan di indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia. Di antara siswa yang indekost tersebut adalah Soekarno, Kartosoewiryo, Sampoerno, dan Abikoesno, Alimin dan Moesso. Mereka tidak hanya makan dan tidur di rumah Tjokroaminoto, tetapi juga berdiskusi baik dengan sesama teman maupun dengan Tjokroaminoto. Sehingga rumah Tjokroaminoto adalah ibarat kancah yang terus menerus menggembleng dan membangun ideologi kerakyatan, demokrasi, sosialisme, dan anti imperialisme. Karena rumahnya banyak disinggahi para pemuda yang sedang menyelesaikan studinya di Surabaya, Tjokroaminoto juga banyak memberikan kursus-kursus kepada mereka. Diantaranya untuk belajar agama dan juga belajar mengembangkan kemampuan berpolitik agar dapat terlepas dari cengkraman penjajah kolonial. Tjokroaminoto bertekad untuk membentuk murid-muridnya sebagai sosok manusia yang dapat meneruskan estafet perjuangan beliau dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Di tangan Tjokroaminoto lah mereka berinteraksi dengan dunia Politik. Banyak alumni rumah kos Tjokroaminoto yang kemudian tumbuh menjadi tokohtokoh besar yang mewarnai dunia pergerakan Nasional. Soekarno dengan Nasionalisme-nya kemudian mendirikan Partai Nasional Indonesia. Semaoen, Alimin, dan Musso dengan Komunisme-nya menjadi tokoh-tokoh utama Partai Komunis Indonesia, serta S.M. Kartosoewirjo dengan Islam fundamentalis-nya kemudian menjadi pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Di rumah itu juga, tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Mas Mansyur sering bertukar pikiran.
Pada bulan Mei 1912, HOS Tjokroaminoto mendirikan organisasi Sarekat Islam yang sebelumnya dikenal Serikat Dagang Islam dan terpilih menjadi ketua. Seiring perjalanannya, SI digiring menjadi partai politik setelah mendapatkan status Badan Hukum pada 10 September 1912 oleh pemerintah yang saat itu dikontrol oleh Gubernur Jenderal Idenburg. SI kemudian berkembang menjadi parpol dengan keanggotaan yang tidak terbatas pada pedagang dan rakyat Jawa-Madura saja. Kesuksesan SI ini menjadikannya salah satu pelopor partai Islam yang sukses saat itu.
Salah satu trilogi darinya yang termasyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan. Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno hingga ia menikahkan Soekarno dengan anaknya yakni Siti Oetari, istri pertama Soekarno. Pesannya kepada Para murid-muridnya ialah "Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator". Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya, MusoAliminKartosuwiryoDarsono, dan yang lainnya terbangung dan tertawa menyaksikannya.
Diantara karya intelektual Tjokroaminoto, baik yang berupa buku maupun dalam bentuk lainnya adalah sebagai berikut:
a.       Tarikh Agama Islam (1963). Buku ini diterbitkan oleh penggalian dan penghimpunan Sejarah Revolusi Indonesia, Jakarta, 1963. Buku ini ditulis berdasarkan literatur diantaranya: The Spirit Of Islam, karya Amir Ali, dan The Ideal of Prophet.
b.      Islam dan Sosialisme (1924). Buku ini merupakan Magnum Opus Tjokroaminoto, yang ditulis di Mataram pada bulan November 1924, dan diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang Jakarta.
c.       Reglament Umum Bagi Umat Islam (1934). Karya ini selesai ditulis pada tanggal 4 Februari 1934, dan disahkan oleh kongres PSII di Banjarnegara pada tanggal 20-26 Mei 1934 yang mengupas tenang Akhlaq, Aqidah, Perkawinan, Ekonomi, Amar Ma’ruf Nahiy Munkar serta perjuangan.
d.      Kultur dan Adat Islam tahun (1933).
e.       Tafsir program dan Azaz Tandim (1965), dan beberapa majalah Islam lainnya.
Tjokroaminoto meninggal di Yogyakarta, Indonesia, pada tanggal 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun. Ia dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta, setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres SI di Banjarmasin.


Selasa, 18 Oktober 2016


Ulama Nusantara: Generasi Penerus Perkembangan Islam di Nusantara (10)


SYEKH MUHAMMAD NAWAWI AL-BANTANI

Nama aslinya ialah Abu Abdil Mu’thi Muhammad ibn Umar at-Tanari al-Jawi al- Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani. Ia dilahirkan di desa Tanara, wilayah Tirtayasa, Serang, Banten (dulu termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat) Indonesia pada 1230 H/1813 M. Ia adalah keturunan Maulana Sultan Hasanuddin, Sultan Banten yang pertama. Pengggunaan nisbat al-Jawi itu digunakan untuk menyatakan bahwa Syekh Nawawi berasal atau berkebangsaan Jawa. Pada waktu itu Jawa lebih dikenal sebagai layaknya suatu negeri karena secara dejure Indonesia belum ada. Ayahnya bernama ‘Umar bin ‘Arabi, dia adalah seorang penghulu daerah Tanara. Ia mengajar sendiri anak-anaknya dalam ilmu-ilmu keislaman seperti: tauhid, tafsir, nahwu, dan fiqh. Pada umur lima tahun, Syekh Nawawi mulai belajar kepada ayahnya, K.H. umar. Bersama saudara-saudaranya ia belajar bahasa Arab, Ilmu Kalam, Fiqh, dan Tafsir al-Qur’an. Ia juga belajar ilmu agama kepada Haji Sahal, seorang guru yang dihormati di Banten pada masa itu. Dengan niat menuntut ilmu yang tinggi, pergi ke Karawang dimana ia berguru kepada Haji Yusuf, kemudian ke Jawa Timur.
Belajar selama lima tahun di pusat-pusat ilmu di tanah Jawa menjadikan ia sebagai seorang yang memiliki ilmu yang memadai untuk mengajar di Banten, tetapi, ia adalah pribadi yang tidak pernah puas dengan ilmu yang telah diperolehnya. Ketika itu diyakini bahwa keunggulan dalam ilmu agama hanya bisa didapat di Mekkah, maka pada umur lima belas tahun (1828 M), berangkat ke Mekkah untuk belajar ilmu agama yang lebih tinggi sekaligus menunaikan ibadah haji. Mekkah merupakan pusat kebangkitan Islam.  Selama mukim di Mekkah, beliau tinggal di perkemahan Syi’ib Ali, tempat komunitas Jawi banyak menetap. Perkampungan ini terletak kira-kira 500 meter dari Masjidil Haram. Rumahnya bersebelahan dengan rumah Syekh Arsyad dari Betawi dan Syekh Syukur dari Alwan. Syekh Nawawi bermadzhab Syafi’i. Seperti muslim lain dari kepulauan Melayu-Indonesia yang datang ke Mekkah untuk belajar pada masa itu, pertama kali belajar kepada guru sarjana Jawi yang sudah menetap di Mekkah. Pertama kali ia belajar kepada Abdul Ghani dari Bima (NTB), Ahmad Khattib dari Sambas (Kalimantan Barat), dan Ahmad bin Zaid, seorang syekh agen haji asal Solo, Jawa Tengah. Kemudian berguru kepada Ahmad Dimyati (w. 1270 H) dan Ahmad bin ‘Abdul Rahman al-Nahrawi. Lalu ia belajar kepada Ahmad Zaini Dahlan (w. 1304 H), seorang mufti Syafi’iyah di Mekkah pada waktu itu.
Pada saat mengajar murid-muridnya, terutama di Ma’had Nasr al- Ma’arif al-Diniyyah di Masjid al-Haram, Syekh Nawawi dikenal sebagai seorang guru yang baik hati, yang menyampaikan pelajaran secara jelas dan mendalam dan menjalin komunikasi yang baik dengan murid-muridnya. Dalam keadaan belajar, para pelajar bebas memilih guru mana yang mereka sukai, murid-murid Syekh Nawawi berjumlah tidak kurang dari 200 orang. Reputasi Syekh Nawawi menarik banyak Muslim Jawi untuk belajar kepadanya di Mekkah. Murid-murid Syekh Nawawi datang dari berbagai wilayah kepulauan Melayu-Indonesia. tetapi kebanyakan muridnya berasal dari Jawa, terutama Jawa Barat dan Banten.  Ajaran-ajaran Syekh Nawawi pada batas-batas tertentu memberikan inspirasi bagi munculnya gerakan-gerakan oposisi melawan pemerintah kolonial Belanda. Salah satunya pemberontakan Petani di Cilegon, Banten pada tahun 1888 yang dimotori oleh beberapa murid Syekh Nawawi yang belajar di Mekkah.
Diantara murid beliau yang berasal dari Indonesia kemudian menjadi tokoh terkemuka adalah K.H. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur (pendiri Nahdlatul Ulama),K.H. Khalil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, K.H. Asnawi dari Carigin, Labuan, Pandeglang, Banten, Kiai Mahfudz Termas, salah seorang ulama terkenal di Mekkah, berasal dari Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur, K.H.R. Asnawi Kudus, seorang pemimpin Pesantren al-Qur’an di Kudus, Jawa Tengah,  K.H. Wasith, seorang ulama dan pemimpin pemberontakan Cilegon pada 1888, K.H. Tubagus Ismail, salah seorang tokoh Islam di daerah Banten yang juga turut berjuang dalam pemberontakan Cilegon pimpinan K.H. Wasith,  K.H. Ahmad Dahlan, tokoh dan pendiri organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah. Muhammadiyah berdiri di Yogyakarta pada tahun 1912 Masehi. K.H. Ahmad Dahlan merupakan murid Syekh Nawawi saat berada di Mekkah, dan Kyai Abdussattar ad-Dahlawi, salah seorang murid Syekh Nawawi dari Delhi, India, yang menjadi tokoh Islam di Arab.
Setelah tiga puluh tahun di negeri Arab, beliau pulang ke Tanara, Banten, atas restu guru-gurunya. Sesampainya di Banten, Syekh Nawawi mencoba menyebarluaskan ilmunya melalui santri-santri pesantren orang tuanya, dari para santri itu diharapkan pengetahuan agama Islam akan semakin tersebar luas dan dia juga mengadakan ceramah-ceramah umum di masyarakat sekitarnya. Ceramah-ceramah yang ia lakukan di depan umum mampu menyedot massa dan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bangkit melawan para kolonial. Tetapi situasi politik Banten pada saat itu belum berubah jauh dari saat ditinggalkan. Pihak kolonial Belanda terus menerus melakukan pengawasan terhadap kegiatan keagamaan, tidak terkecuali kegiatan Syekh Nawawi. Kemampuannya memobilisasi massa semakin membuat pihak Belanda ketakutan. Untuk mengurangi pengaruh Syekh Nawawi, pihak Belanda merasa perlu mengadakan cara yang dapat menghalangi kontak antara Syekh Nawawi dan pengikutnya. Akhirnya dengan menggunakan cara kekuatan, ceramah-ceramah Syekh Nawawi diberanguskan dan dibekukan oleh pihak Belanda.
Kondisi diatas membuat Syekh Nawawi merasa tidak leluasa menyebarkan paham keagamaan pada masyarakatnya. Niatan untuk memberantas kebodohan dan ketakutan terhadap kolonial ternyata mendapat ganjalan keras dari pihak kolonial Belanda. Hal ini membuat Nawawi tidak betah tinggal lama-lama di tanah kelahirannya. Setelah kurang lebih tiga tahun dia berada di Banten, Syekh Nawawi berangkat kembali ke Mekkah untuk menimba ilmu.
Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan keputusan Syekh Nawawi meninggalkan tanah air dan memilih menetap di Mekkah. Pertama, karena sudah menjadi sebuah tradisi bagi orang Jawi, dalam hal ini untuk pergi ke Mekkah dengan tujuan melaksanakan ibadah haji dan menuntut ilmu agama, kemudian menikah dan menetap disana. Kedua, berkaitan dengan kondisi Nusantara khususnya Banten yang brada di bawah tekanan pemerintah kolonial Belanda – setelah melihat keadaan yang tidak kondusif di Nusantara, khususnya dalam masalah sosial (pendidikan) memerlukan ruang yang luas dan kebebasan untuk meningkatkan aktivitas kesarjanaannya dan beliau menemukan Mekkah sebagai tempat yang cocok untuk hal tersebut. Ketiga, ia ingin menjaga sebuah tradisi panjang yang dimulai sejak periode Abdul Samad al-Palimbani, dan Syekh Sambas yaitu ia ingin mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengajar komunitas Jawi, yang dari tahun ke tahun jumlahnya terus bertambah, yang hendak menuntut ilmu kepadanya.
Setelah memutuskan untuk menetap di Mekkah, sebagai seorang yang haus akan ilmu pengetahuan, meskipun ia telah dipandang sebagai seorang alim dan maha guru khususnya dikalangan komunitas Jawi, untuk menambah pengusaaan dalam berbagai cabang ilmu keislaman, beliau banyak berguru dan mengadakan rihlah ‘ilmiah (perjalanan untuk menuntut ilmu) ke berbagai daerah di sekitar Mekkah. Hal ini terlihat dari keterangan yang disampaikan oleh salah satu murid terkenal beliau, Abdul Sattar al-Dihlawi (1869 -1936 M), yang mengatakan bahwa beliau pernah pergi ke Madinan untuk belajar hadis kepada Muhammad Khatib Duma al-Hanbali, yang darinya dilaporkan memperoleh Ijazah. Disamping mengunjungi Madinah utnuk menambah perbendaharaan ilmunya, beliau juga pernah pergi ke Syiria dan Mesir, tetapi ia tidak memberikan informasi tentang guru-guru di kedua kota tersebut. Beliau sendiri dalam karyanya Nasha’ih al-‘Ibad menyebutkan bahwa ia juga mendapatkan ijazah dari guru lain, Sayyid Ahmad al-Marsafi al-Misri, yang dari namanya bisa diketahui bahwa beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Mesir. Tetapi meskipun demikian, belum bisa diyakini apakah beliau memang pernah belajar kepada al-Marsafi di Mekkah atau kota lain di Hijaz. Namun, ada informasi yang mengatakan bahwa ia memang pernah mengadakan perjalanan ke Mesir. Disebutkan pada tahun 1870, bahwa Syekh Nawawi menerima undangan dari para ulama Universitas al-Azhar Cairo untuk memberikan kuliah umum di suatu forum diskusi ilmiah dengan tujuan mendengarkan secara langsung dari beliau terkait dengan banyaknya karya-karya beliau yang telah tersebar di Mesir pada waktu itu.
Perjalanan Syekh Nawawi yang ditemani muridnya Muhammad Yusuf ke Mesir ini, mengindikasikan adanya kontak intelektual antara Mekkah dengan dinamika gejolak pemikiran yang terjadi di negeri tersebut.  Syekh Nawawi memilih Syekh Sumbulanewi asal Kairo sebagai guru utamanya di Kairo.  Sebagai salah seorang ulama yang memiliki pengaruh luas di tanah Hijaz pada waktu itu, setiap forum pengajian yang beliau adakan selalu mendapat respon yang baik dari para penuntut ilmu. Setiap kali Syekh Nawawi mengajar di Masjidil Haram terdapat sekitar dua ratus murid dan anak didiknya yang selalu setia menghadiri perkuliahan yang ia beri.
Syekh Nawawi juga menggunakan waktunya untuk menulis berbagai kitab. Lantaran karyanya yang terbilang cukup banyak, Syekh Nawawi sering disebut-sebut sebagai pengarang produktif. Karya beliau berjumlah 115 kitab. Dari keseluruhan kitab tersebut terdiri dari berbagai disiplin ilmu, diantaranya tafsir, fiqh, hadits, sejarah, tauhid, akhlak, tasawuf, dan ilmu bahasa. Karangan-karangan Syekh Nawawi semuanya berbahasa Arab, sehingga nama pengarangnya dapat terkenal sampai ke Mesir, Syam, Turki dan Hindustan. Malah ia pernah diundang ke Mesir dan disambut oleh para ulamanya dengan sambutan yang mulia.
Produktivitas Nawawi dalam menulis kitab memang hampir-hampir tak terbendung. Seorang murid Nawawi bernama Syekh Abdus Satar ad-Dahlawi menceritakan, salah satu keistimewaan Nawawi adalah kemampuannya mengarang kitab sambil mengajar. Ketika dia mengajar para murid-muridnya, di tengah-tengah itu pula beliau menuliskan karya-karyanya. Puluhan sampai ratusan kitab yang lahir dari tangannya itu juga terdiri dari beragam kajian dan pembahasan. Karya Nawawi meliputi delapan cabang utama ilmu keislaman, yakin tafsir, fikih, ushuluddin, tasawuf, biografi Nabi, tata bahasa Arab, dan retorika. Karangan Syekh Nawawi pada umumnya memberikan pembahasan dan penjelasan beberapa kitab yang ditulis oleh para guru dan ulama sebelumnya, hanya kitab tafsirnya Tafsir Munir, yang murni merupakan hasil karyanya (pemikirannya) sendiri.
Diantara sebagian karya beliau adalah:
As-Simar al-Yani’at, Syarh ‘ala Riyadh al-Badi’at, kitab fiqh ini merupakan komentar terhadap karya Syekh Muhammad Hasbullah. Tanqih al-Qaul al-Hatsis, Syarh ‘ala Lubab al-Hadits, kitab yang membahas empat puluh hadits tentang perilaku utama ini merupakan ulasan terhadap karya Imam Jalaluddin asy-Suyuthi. At-Tausyih, Syarh ‘ala Fatkhu al-Qarib al-Mujib, kitab fiqh ini merupakan komentar terhadap karya Ibn Qasim al-Ghazi. Nur az-Zhalam, Syarh ‘ala Manzhumah bi Aqidah al-Awwam, kitab tauhid ini merupakan komentar terhadap karya Sayyid Ahmad Marzuki al-Makki. Tafsir al-Munir li Muallim at-Tanzil (Murah al-labid li Kasyfi ma’na Qur’an al-Majid), kitab ini adalah tafsir al-Qur’an 30 juz yang terdiri dari dua jilid besar. Jilid I terdiri dari 510 Halaman, sedangkan jilid II terdiri dari 476 halaman. Kitab ini merupakan karya terbesar Syekh Nawawi dan lantaran kitab ini pula beliau mendapat predikat Sayyid Ulama Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz), dan masih banyak kitab lainnya.
      Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Mekkah pada tanggal 25 Syawal 1314 H / 1897 M dan dimakamkan di perkuburan Ma’la (Mekkah) berdekatan dengan makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa, khususnya di Banten, umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawal diadakan acara haul (memperingati 100 hari) untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau wafat pada saat sedang menyusun sebuah tulisan yang menguraikan dan menjelaskan kitab Minhaj al-Talibin karya Yahya ibn Syaraf ibn Mura ibn Hasan ibn Husain.



Ulama Nusantara: Generasi Penerus Perkembangan Islam di Nusantara (9)

SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI

Syekh Yusuf al-Makassari yang mempunyai nama asli Muhammad Yusuf Abu al-Mahasin Hadiyallah Tajul-Khalwati al-Makassari juga dikenal penduduk Makassar sebagai Tuanta Salamaka dilahirkan pada tahun 1036 H/1626 M. Menurut Hikayat Syekh Yusuf, ia dilahirkan dari perkawinan seorang tua dengan seorang anak perempuan. Dalam keadaan hamil anak perempuan tersebut diambil istri oleh Sultan Gowa. Ia dibesarkan di istana dan diangkat oleh raja sebagai anaknya. Sejak kecil ia belajar ilmu-ilmu agama. Namun kemudian, ia mempunyai kecenderungan yang kuat kepada ilmu tasawuf. Dia mula-mula belajar membaca Al-Quran dengan guru setempat bernama Daeng ri Tasammang. Selanjutnya, dia belajar bahasa Arab, fikih, tauhid, dan tasawuf dengan Sayyid Ba’Alwi bin ‘Abdullah al-‘allamah Al-Thahir, seorang dai Arab yang tinggal di Bontoala. Ketika dia berusia 15 tahun, dia melanjutkan pelajarannya ke Cikoang. Syekh Yusuf belajar di pondok Cikoang di bawah bimbingan dan asuhan Syekh Jalaluddin. Karena kecemerlangan dan kecerdasannya dalam mengikuti pengajian, akhirnya beliau disarankan oleh gurunya untuk meneruskan pelajarannya di Makkah dan Madinah.
Pada tanggal 22 September 1644 M, beliau berangkat dengan menumpang kapal Melayu, dengan tujuan menuntut ilmu-ilmu Islam di Jazirah Arabia terutama di Makkah dan Madinah sebagai pusat pendidikan Islam pada masa itu. Tujuan pertama adalah Banten, sebagaimana jalur pelayaran niaga pada waktu itu mesti melalui Laut Jawa dan transit di Banten. Ketika ia singgah di Banten, ia tidak merasa dirinya orang asing. Ia dihormati dan dihargai sebagai seorang alim. Hal ini disebabkan oleh hubungan antara Makassar dan Banten sangatlah baik. Ia juga berkenalan dengan ulama dan tokoh agama serta orang-orang besar di Banten, termasuk Abdul Fattah (putra mahkota), anak Sultan Abul Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), Sultan kerajaan Banten pada masa itu.
Setelah beberapa lama berada di Banten, kemudian beliau meneruskan perjalanannya ke Aceh. Di sana ia menemui Syekh Nuruddin al-Raniri dan mempelajari tarekat Qadiriyah sampai berhasil mendapatkan ijazah dari ulama besar itu. Namun pertemuan antara guru dan murid ini banyak dipertanyakan oleh para sejarawan, sebab pada waktu Syekh Yusuf sedang berjalan ke tanah suci, Nuruddin telah pulang ke India, dan tidak adanya bukti bahwa dia kembali ke Aceh kembali. Mungkin yang dimaksud adalah pamannya Nuruddin yang bernama Muhammad Jailani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniri, yang datang ke Aceh pada tahun 1580. Perjalanan beliau selanjutnya adalah menuju Yaman. Kemungkinan kecendrungannya untuk singgah belajar di Yaman adalah atas saran gurunya, Syekh Muhammad Jilani di Aceh hal mana ia juga pernah belajar dan menerima ijazah Tarekat di negeri Yaman. Setelah beliau selamat tiba di Bandara Hadramaut (Yaman) beliau berguru pada Syekh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w.1664), seorang ulama yang terkenal di Yaman pada masa itu dan juga Khalifah Tarekat al-Naqshabandiyyah. Setelah beberapa lama mengaji di Yaman, terutama kepada kedua gurunya yang tersebut di atas, kemudian beliau meneruskan perjalanannya menuju kota Mekah untuk menunaikan haji dan beliau menuju Madinah untuk menziarahi makam Rasulullah SAW. Di sinilah Abdurrauf mungkin belajar bersama dengan Syekh Yusuf.
Syekh Yusuf mengembara kurang lebih selama 22 tahun untuk menuntut ilmu pengetahuan keislaman. Akhirnya, ia kembali pulang ke tanah air. Kepulangannya ke Gowa bermaksud untuk menyebarkan agama Islam melalui dakwah dan pendidikan. Tetapi ia sangat kecewa ketika menyaksikan kenyataan bahwa masyarakat Gowa sudah menyimpang dari Syariat Islam. Gowa penuh dengan kemaksiatan seperti minum tuak, adu ayam, dan judi. Ia memberi nasehat kepada raja Gowa agar meluruskan syariat namun tidak diterima. Akhirnya pada tahun 1672 ia meninggalkan Gowa dan menuju Banten. Ketika ia kembali ke Banten yang telah berubah, ia mendapati sahabatnya Sultan Abdul Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa) telah menduduki tahta Kesultanan Banten. Ia menikahi salah seorang putri Sultan Ageng Tirtayasa dan diangkat menjadi mufti Kesultanan dan raja muda. Perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji yang bersekutu dengan Belanda mengakibatkan peperangan. Perang terjadi selam dua tahun (Februari 1682-Desember 1683). Sultan Ageng tertangkap pada Maret 1683 karena tipuan anaknya lantas ia dimasukkan penjara. Perang gerilya diteruskan oleh Syekh Yusuf namun karena bujukan akhrinya ia ditangkap. Pada tanggal 12 September 1684, ia dibuang ke Ceylon pada usia 85 tahun bersama dua istrinya, dua pembantu wanita, dua belas santri, beberapa anak dan budak-budaknya.
Selama beberapa tahun dibuang ke Afrika Selatan, akhirnya Syekh Yusuf Al-Makassari meninggal dunia pada 23 Mei 1699. Ia dimakamkan di daerah pertanian Zandvielt, di distrik Setellenbosch. Makam Syekh Yusuf kemudian menjadi keramat dan dianggap sebagai tempat suci.  Pemikiran-pemikiran Syekh Yusuf banyak sekali terpengaruh dari sufi sunni Abu Hamid al-Ghazālī.
Syaikh Yusuf adalah figur sufi yang cukup produktif dalam karya tulis, berani, dan tegas menghadapi penguasa. Hal ini terlihat dari surat-surat yang dialamatkan kepada Sultan Makassar yang memuat nasihat-nasihat Agama. Menurut Nabila Lubis judul karangan Syekh Yusuf dalam bahasa Arab sebanyak 32 judul buku. Di antaranya adalah sebagai berikut:
a)      Habl Al-Marīd li Sa’adah Al-Murīd merupakan karya Syekh Yusuf yang diminta oleh beberapa muridnya yang berisi kata-kata dari Syekh yang pandai-pandai.
b)      Al-Futȗhah Robbaniyyah, Karya ini merupakan risalah yang berisi tentag keutamaan Syaikh dan kewajiban murid kepada gurunya.
c)      Zubdāh al-Asrār fī Taqīq Masyārib Al-Akhyār merupakan karya yang telah ditelaah isinya oleh Nabila Lubis. Karya ini berisikan tentang penjelasan-penjelasan mengenai konsep wadāt al-wujȗd.
d)      Thufāh Al-Labib bi Liqa’ Al-abīb merupakan karya Syekh Yusuf yang berisikan tentang keutamaan Dzikir.
e)      Safīnah Al-Najāh Al-Mustāfadah ‘an Al-Masāyikh Al-Tsiqāt merupakan karya Syekh Yusuf yang menerangkan tentang nasihat-nasihat Syekh mengenai makna baiat.
f)       Al-fawāid Al-Yusȗfiyyah fī Bayān Taqiq Al-Shufiyyah merupakan sbuah risalah yang ditulis oleh beliau sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan murid-muridnya mengenai tasawuf.
g)      Muqaddimah Al-Fawāid nila Mā La Buddā min Al-Aqā’id, dalam risalah ini beliau menguraikan tentang macam-macam zikir dan makna konsep wujud makhluk dalam ilmu Allah SWT.
Selain itu, Syekh Yusuf juga mempunyai banyak risalah kecil, antara lain, Al-Barākat al-Saylaniyyah, Bidāyah Al-Mubtadi’, Qurrah al-‘Ain, Sirr Al-Asrār, Daf’ Al-Bala’, Ghayah Al-Ikhtisar wa Nihāyah Al-Intizhar, dan Thufāh Al-Abrar li Ahl Al-Asrār.